DI KENYA SUDAH RASIS, PADAHAL BELUM ADA KASUS VIRUS




Perkembang pandemic virus covid-19 ini sudah menyebar ke sleuruh penjuru dunia. Namun yang harusnya kita takuti bukan virusnya itu karena sebenernya musuh terbesar berada dalam diri sendiri seperti rumor, ketakutan dan stigma. Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun sudah merespons kasus seperti ini dengan prasangka anti Cina di bulan lalu.

Suatu cerita yang di ambil dari twitter, tentang seorang pria asal Singapura yang di pukuli di London karena ciru corona. Prasangka seperti itupun menyebaar ke seluruh dunia termasuk Afrika Timur, Kenya. Walaupun pada waktu itu belom ada kasus yang positif, namun stigma tersebut malah meluas.

Ada pula video mengenai pria dan wanita Asia yang di ganggu di daerah Nairobi, di video itupun memperlihatkan bahwa ada segelintir orang yang berteriak kepada mereka dengan kalimat ‘kamu adalah virus corona’. Pria tersebut pun langsung mencoba menanggapinya dan segera membantu wanita terusebut sebelum makin di ganggu. Pria tersebut pun langsung berteriak di depan warga yang paling agresif dengan kalimat ‘kami tidak memiliki corona’. Namun di video tersebut tidak menjelaskan bagaimana kejadian itu berakhir, tapi sudah jelas bahwa itu adalah kondisi dan efek dari kemunculan virus tersebut.

Lalu ada juga pesan yang tersebad di facebook yang diduga ternya itu adalah psotingan dari seorang anggota pemerintahan dari Kenya dan menyuruh penduduknua untuk menghindar interaksi dengan warga China yang kebanyakan baru kembali setelah merayakan Imlek di Tiongkok.

Kedutaan besar China pun dengan cepat merespon melalui postingan twitter dengan membuat penyataan pendeketan rasional dan ilmiah terhadap masyarakat China, karena hal tersebut disebut rasis. Namun bukan hanya Kenya aja yang memiliki stigma seperti ini. anehnya ketika ada kasus awal virus sub-Sahara Afrika terkait dengan perjalanan Eropa ke China, mereka pun ga ada perasaan anti-Eropa.

Stigma ini dipicu karena hubungan ekonomi Kenya dan China yang saling terkait. Terdengar kabar bahwa Kenya telah meminjam uang dengan jumlah yang besar kepada China untuk proyek infrastruktur. Sementara banyak warga Kenya yang ga bisa merasakan manfaatnya, malah banyak yang sengsara. Bosan menuduh pemerintah dan merasa sudah frustasi dimana banyaknya warga China yang datang ke negara mereka untuk mencari peluang ekonomi.

Ketakutan terhadap virus Corona itu semakin membuat stigma yang tidak benar sehingga ia menemukan perilaku yang tak biasa. Jurnalis mantan veteran, Adrian Blomfield pun mengatakan bahwa seseoang yang bekerja sebagai supir taksi untuk setuju bahwa mereka ga akan mengangkut penumpang warga China. Serem ya ternyata rasisnya seperti itu..

Mereka melakukan itu guna tidak mendapatkan virus sehingga mereka menguma nama aplikasi taksi guna menghindari dari permintaan penumpang karena otomatis akan di tolak.

Memang benar stigma yang seperti itu malah membuat warga di seluruh dunia pusing. Dimana-mana saling menyalahkan, padahal kalau di pikir-pikir lagi sepertinya banyak kejanggalan yang terjadi pada virus ini. Tapi yang penting kita sudah berikhtiar, berusaha, dan tetap waspada karena hanya Tuhanlah yang bisa mencabut pandemic ini. Kita pun ga tau kan kapan berakhirnya, walaupun setiap negara pun bingung mengapa China cepat sekali pulihnya padahal China merupakan negara dengan penyebaran virusnya pertama di dunia dan pada waktu itu menjadi negara yang paling banyak pasien terjangkinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post